• Font size:
  • Decrease
  • Reset
  • Increase

Belajar Mengelola Alam Di Desa Wisata Lebak Muncang

Para pemerhati desa wisata pasti sudah pernah mendengar nama Lebak Muncang. Sebuah desa yang masuk dalam wilayah pemerintahan kecamatan Ciwidey, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Seperti kampung wisata pada umumnya, desa Lebak Muncang menawarkan interaksi dan kegiatan langsung bersama penduduk setempat.

Kali ini, selama 2 hari, dari tanggal 15 s/d 16 Desember 2016, sebanyak kurang lebih 160 siswa kelas 11 SMA Budhi Warman 2 Jakarta mengadakan study-trip ke Lebak Muncang guna mempelajari dan melihat lebih dekat bagaimana masyarakat desa Lebak Muncang mengelola desa wisatanya.

Rombongan para peserta study trip ini sampai di lokasi (meeting point) di desa Lebak Muncang masih siang, sekitar pukul 2 siang, karena rombongan hanya punya satu destinasi, yaitu desa wisata Lebak Muncang ini saja. Para petinggi desa, para panitia pengelola desa wisata setempat, dan para Ibu yang akan menjadi "Ibu angkat" para siswa selama tinggal di homestay di desa wisata ini telah siap menyambut kedatangan rombongan di tengah gerimis di ketinggian 1.600 DPL (Di atas Permukaan Laut), dengan suhu udara yang sangat dingin bagi kebanyakan siswa yang tinggal di kota Jakarta yang panas.

Setelah semua siswa mendapatkan tempat di homestay masing-masing, mereka diberi waktu istirahat sejenak sampai sehabis sholat maghrib, karena malam harinya para siswa akan disuguhi dengan pertunjukan hasil kreasi kesenian setempat berupa tari dan musik tradisional yang sangat khas desa Lebak Muncang. Pada kesempatan malam itu juga para siswa juga diajari cara menari dan memainkan alat-alat musik tradisonal mereka yang sangat berbeda cara memainkannya dengan alat-alat musik modern.

Pagi harinya mulailah kegiatan study-trip yang sebenarnya. Para siswa diajak blusukan ke sawah, tegalan, kebun, kandang sapi, pabrik teh skala kecil dan beberapa tempat lagi yang selama ini tidak begitu familiar dengan para siswa yang tinggalnya di ibukota. Dalam kegiatan bercocok tanam, misalnya, para siswa diajari bagaimana cara menanam bibit, memelihara, memanen, bahkan hingga cara memasarkannya ke konsumen. Jenis tanaman yang biasa ditanam di desa Lebak Muncang ialah stroberi, bawang, seledri, tomat, dan jamur karena letaknya yang berada di daerah pegunungan. Tentu saja aktivitas ini sangat bermanfaat bagi para siswa agar mereka lebih menghargai kerja keras para petani.

Selain itu, desa Lebak Muncang ini juga sangat khas dengan produksi kopi luwaknya yakni kopi yang terbuat dari biji kopi yang keluar bersama kotoran luwak. Sayang, harga kopi luwak ini sangat mahal sehingga tak satupun siswa atau para guru pembimbing yang membelinya meskipun hanya segelas saja. Kopi luwak memang punya target konsumen tersendiri yang konon rela merogoh kantong hingga ratusan ribu rupiah demi bisa menikmati kopi luwak yang rasanya eksotis dan produksinya langka ini.

Walaupun tubuh menjadi kotor dan kulit sedikit menghitam, tapi para siswa ini tampak enggan untuk kembali pulang ke Jakarta. Mereka begitu asyik menikmati kegiatan study-trip ini, karena mereka merasa lebih dekat dengan obyek nyata yang selama ini hanya mereka pelajari lewat buku dan guru semata. Tapi durasi kegiatanlah yang akhirnya harus memisahkan antara para siswa dengan desa Lebak Muncang ini. Sungguh perpisahan yang berat, tapi sangat membawa banyak arti bagi kelanjutan kehidupan para generasi muda harapan bangsa ini.

Link Terkait



SmartNews.Com

Link Kampus

1.gif2.gif3.gif4.gif5.gif6.gif
Switch mode views: